Oleh: Ikhwan Rizki | Mei 22, 2011

ANTIBIOTIK, RESISTENSI, DAN PENGGUNAANNYA DI KOTA YOGYAKARTA (MY RESEARCH)

Dalam beberapa dekade ini, penggunaan antibiotik semakin tidak terkendali. Peresepan dengan indikasi yang tidak jelas dan pemilihan jenis antibiotik yang kurang rasional menjadi permasalahan besar.  Antibiotik bahkan dapat dibeli secara bebas di apotek maupun di toko-toko obat. Padahal secara jelas kita ketahui bahwa antibiotik salah satu golongan obat keras yang hanya bisa didapat melalui resep dokter. Secara definisi antibiotik merupakan senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh organisme hidup (bakteri, fungi dan  actinomycetes), termasuk turunan senyawa dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik, dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme lain (Soekardjo et al, 2000; Googman and Gilman, 2007). Beberapa antibiotik yang sering kita kenal diantaranya amoksisilin, eritromisin, siprofloksasin, dan tetrasiklin.

Permasalahan yang timbul dalam penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol yaitu resistensi bakteri terhadap antibiotik. Sering kita menyebut sebagai resistensi antibiotik, sebenarnya istilah yang lebih tepat yaitu resistensi bakteri terhadap antibiotik. Beberapa kalangan sering menilai resistensi merupakan hal yang kurang penting. Padahal World Health Organization (WHO) sudah sejak lama memerangi permasalahan terkait resistensi bakteri terhadap antibiotik dengan mempromosikan secara besar-besaran penggunaan antibiotik yang rasional. Resistensi bakteri terhadap antibiotik merupakan suatu keadaan dimana bakteri sudah tidak terhambat kehidupannya saat antibiotik dipaparkan terhadap bakteri tersebut. Bahasa awamnya bisa dianggap bakteri kebal terhadap antibiotik. Pasien yang menggunakan antibiotik seharusnya menggunakan antibiotik sampai habis. Apabila antibiotik tidak diminum sampai habis, ada kemungkinan bakteri tidak mati seluruhnya sehingga dapat terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik jika antibiotik tidak dihabiskan. Suatu bakteri jika sudah resisten terhadap suatu antibiotik, maka diperlukan antibiotik jenis lain yang pada umumnya lebih mahal dibanding antibiotik sebelumnya. Biaya pengobatan untuk kesembuhan pasien tentunya akan lebih mahal dibanding sebelumnya.

Penggunaan antibiotik pada anak merupakan hal yang harus diperhatikan. Penggunaan antibiotik yang kurang rasional pada anak dapat menyebabkan penurunan sistem imun anak, sehingga anak akan mudah sakit dikemudian hari. Selain itu, siprofloksasin dan tetrasiklin merupakan antibiotik yang dihindari penggunaannya pada anak karena menyebabkan gangguan pada anak. Namun, bukan berarti anak tidak boleh menerima antibiotik, anak masih dapat menerima antibiotik melalui resep dokter. Pembelian antibiotik secara bebas di apotek harus dihindari. Menurut penelitian skripsi yang telah saya lakukan (Rizki et al, 2010) dengan judul “ANALISIS PERESEPAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DI WILAYAH KOTA YOGYAKARTA BERDASARKAN DATA DI APOTEK PADA TAHUN 2009” dapat diketahui bahwa antibiotik yang paling banyak diresepkan pada pasien anak yaitu amoksisilin (34,68%), diikuti sefiksim (23,25%), dan eritromisin (22,48%). Penelitian tersebut dilakukan di 15 apotek di Kota Yogyakarta, dimana setiap apotek mewakili masing-masing kecamatan. Dari hasil penelitian tersebut, banyak dokter yang meresepkan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (sefiksim). Ada kemungkinan disebabkan bakteri sudah mulai resisten terhadap amoksisilin dan eritromisin sehingga dokter lebih memilih meresepkan sefiksim. Sefiksim merupakan antibiotik golongan yang lebih baru dibanding amoksisilin dan eritromisin. Harga sefiksim juga lebih mahal dibanding amoksisilin dan eritromisin, bahkan mencapai 3 kali lipatnya.

Penggunaan antibiotik secara rasional merupakan hal yang mutlak harus kita lakukan. Pembelian antibiotik tanpa resep dokter harus kita hidari karena nantinya akan merugikan diri kita sendiri. Mari kita dukung peresepan antibiotik yang rasional. Peran serta tenaga kesehatan akan sangat membantu dalam mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Apoteker sebagai lini terakhir penyerahan obat sebaiknya menunjukkan perannya di tengah masyarakat awam yang buta akan informasi obat yang bersifat objektif. Apabila ragu terhadap penggunaan suatu obat maka tanyakanlah kepada Apoteker. Maju terus Apoteker Indonesia.

Daftar Pustaka

Goodman and Gilman, 2007, Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, diterjemahkan oleh Amalia, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rizki, I., Saepudin, Dimas, A., 2010, Analisis Peresepan Antibiotik Pada Pasien Anak di Wilayah Kota Yogyakarta Berdasarkan Data di Apotek Pada Tahun 2009, Skripsi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Soekardjo, B., Hardjono, S., Sondakh, R., 2000, Hubungan Struktur Aktivitas Obat Antibiotika, Dalam Siswandono, Soekardjo, B., (Eds), Kimia Medisinal, Edisi Kedua, Airlangga University Press, Surabaya, 109.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: