Oleh: Ikhwan Rizki | Desember 24, 2009

KANKER PAYUDARA (Breast Cancer)

A. PENDAHULUAN

Kanker payudara yaitu adanya pertumbuhan abnormal sel pada payudara.Organ-organ dan kelenjar dalam tubuh (termasuk payudara) terdiri dari jaringan-jaringan, berisi sel-sel. Umumnya, pertumbuhan sel normal mengalami pemisahan, dan mati ketika sel menua sehingga dapat digantikan sel-sel baru. Tapi, ketika sel-sel lama tidak mati, dan sel-sel baru terus tumbuh (padahal belum diperlukan), jumlah sel yang berlebihan bisa berkembang tidak terkendali sehingga membentuk tumor.

Kanker payudara adalah salah satu kanker yang paling umum terjadi dan hanya kedua setelah kanker paru-paru sebagai kanker penyebab kematian pada wanita Amerika. Tiap tahunan rata-rata dari 1997-2001 adalah 141,7 kasus per 100.000 di antara wanita, 119,9 antara orang kulit hitam, 96,6 antara Asian_amerika,  89,6 di Hispanik, dan 54,2 di Indian Amerika / Alaska.

B. EPIDEMIOLOGI

Dua variabel yang paling kuat dikaitkan dengan terjadinya kanker payudara jenis kelamin dan usia. Meskipun orang biasanya berpikir kanker payudara sebagai penyakit yang terbatas pada wanita, sekitar 1.690 kasus kanker payudara laki-laki yang diproyeksikan akan didiagnosis di Amerika Serikat pada jenis kelamin laki-laki 2005. Timbulnya kanker payudara meningkat dengan usia lanjut. Sebenarnya risiko wanita mengalami kanker payudara sebelum usia 40 tahun adalah sekitar 1 dalam 250. Kanker payudara  meningkat dengan meningkatnya usia, lebih dari setengah risiko terjadi setelah umur 60 tahun.

C. ETIOLOGI

1. Faktor Endokrin

Banyak berhubungan dengan durasi total menstruasi kehidupan. Awal menarke, umumnya didefinisikan sebagai awal menstruasi sebelum usia 12 tahun, telah ditunjukkan oleh sejumlah peneliti peningkatan risiko perkembangan kanker payudara dibandingkan untuk menarke pada umur 16 atau lebih. Sebaliknya, usia dini dalam menopause telah terbukti menghasilkan pengurangan risiko. Wanita yang memiliki anak pertama setelah usia 35 tahun sedikit lebih tinggi resiko kanker payudara daripada wanita nulliparous. Ini adalah masa ketika hormon yang tidak seimbang bereaksi dengan lingkungan dan sangat responsif terhadap jaringan payudara.

2. Faktor Genetik

Baik personal dan sejarah keluarga mempengaruhi risiko wanita mengalami kanker payudara. Sejarah medis terkait kanker payudara adalah memungkinkan sekitar lima kali lipat peningkatan risiko payudara kanker. Persentase dari kanker payudara dalam populasi yang dapat dikaitkan untuk sejarah keluarga berkisar antara 6% dan 12%.

3. Faktor Lingkungan dan gaya hidup

Pengamatan bahwa tingkat insiden kanker payudara bervariasi 10 kali lipat menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan penting peran dalam penyebab kanker payudara. Meskipun insiden payudara kanker pada wanita Asia yang sangat rendah (sekitar 97 kasus per 100.000 perempuan), insiden kanker payudara pada wanita Asia yang lahir di Amerika Serikat, atau yang bermigrasi dari Asia ke Amerika Serikat, secara berangsur-angsur meningkat menjadi sama bahwa populasi kulit putih di wilayah yang sama.

Diet adalah faktor lingkungan yang jelas, dan kemungkinan hubungan antara asupan lemak atau kolesterol dan steroid hormon metabolisme telah mendorong penekanan pada diet lemak sebagai kemungkinan etiologi. Banyak studi yang telah meneliti resiko relatif untuk kanker payudara terkait asupan lemak tinggi.

Laporan lebih dari 50 penyelidikan epidemiologi dari hubungan
antara alkohol dan kanker payudara telah muncul.  Data menunjukkan bahwa risiko meningkat dengan konsumsi alcohol. Mekanisme  alkohol-hipotesis kanker payudara dapat meliputi peningkatan tingkat  estradiol atau hormon steroid reproduksi lainnya; berubah hepatik metabolisme karsinogen; produksi produk protein sitotoksik;
berkurang kekebalan; gangguan perbaikan DNA; atau  mungkin yang mempengaruhi efek alkohol pada integritas membran sel  dan / atau metabolisme intraseluler substrates. Meningkatkan risiko kanker payudara. Obat tekanan darah, terbukti meningkatkan risiko kanker payudara.

D. GAMBARAN KLINIK

Sebuah benjolan tanpa rasa sakit adalah tanda awal di lebih dari 90% dari perempuan dengan kanker payudara. Terdiri atas massa soliter, padat, keras, tidak teratur, dan nonmobile. Kira-kira 10% dari kasus, menusuk atau nyeri merupakan gejala pertama. Jarang terjadi, perubahan puting, penyusutan, atau mungkin dimpling pada awal penyakit. Dalam kasus beberapa kasus, edema, kemerahan, kulit agak hangat dan
indurasi jaringan dapat diamati.

E. PATOFISIOLOGI

Beberapa tumor yang dikenal sebagai “estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe estrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jaringan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone ini, yang meningkatkan pertumbuhan sel-sel kanker.

EBAG9 baru-baru ini diidentifikasi sebagai gen responsif estrogen dalam MCF-7 sel karsinoma payudara manusia. EBAG9 adalah identik dengan RCAS1, sebuah antigen permukaan sel kanker mungkin terlibat dalam kekebalan sel kanker. EBAG9 immunoreactivity terdeteksi pada seluruh permukaan dan sitoplasma sel karsinoma invasif duktal karsinoma. EBAG9 dihasilkan melalui reseptor estrogen atau “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada sel karsinoma dan menghambat infiltrasi intratumoural limfosit T dalam konteks kemungkinan kekebalan endokrin-interaksi dalam kanker payudara manusia.

F. STADIUM KANKER PAYUDARA

Stadium T N M 5 year survival rate
0 Tis (LCIS/DCIS)
I T1 N0 M0 93%
IIA T1T2 N1N0 M0M0 72%
IIB T2T3 N1N0 M0M0 72%
IIIA T1/T2T3 N2N1/N2 M0M0 41%
IIIB T4 Any N M0 41%
IV Any T Any N M1 18%

Keterangan

TX : Lokasi tumor ganas tidak dapat dinilai

Tis : Tumor in situ (pre invasive carcinoma)

T1 : Tumor diameter « 2 cm

T2 : Tumor diameter lebih besar dari 2 cm tapi kurang dari 5 cm

T3 : Tumor diameter > 5 cm

T4 : Tumor ukuran apapun invasi ke daerah sekitar (otot, kulit)

Nx : Penyebaran pada KGB tidak dapat dinilai

N0 : KGB tidak terlibat

N1 : Metastasis KGB ipsilateral aksila dapat digerakkan

N2 : Metastasis KGB ipsilateral terfiksasi dengan jaringan sekitar

N3 : Metastasis KGB ipsilatral KGB mammae atau ipsilateral KGB

supraklavikuler

Mx : Metastasis tidak dapat dinilai

M0 : Tidak ada metastasis

M1 : Metastasis pada organ – organ lainnya

H. PEMERIKSAAN

1. Imaging test : Diagnostic mammography. Sama dengan screening mammography hanya pada test ini lebih banyak gambar yang bisa diambil. Biasanya digunakan pada wanita dengan tanda-tanda, diantaranya putting mengeluarkan cairan atau ada benjolan baru. Diagnostic mammography bisa juga digunakan apabila sesuatu yang mencurigakan ditemukan pada saat screening mammogram.

2. Ultrasound ( USG )

Suatu pemeriksaan ultrasound adalah menggunakan gelombang bunyi dengan frekuensi tinggi untuk mendapatkan gambaran jaringan pada payudara. Gelombang bunyi yang tinggi ini bisa membedakan suatu massa yang solid, yang kemungkinan kanker, dan kista yang berisi cairan, yang kemungkinannya bukan kanker.

3. MRI

MRI menggunakan magnetic, bukan X-ray, untuk memproduksi images ( gambaran ) detail dari tubuh. MRI bisa digunakan, apabila sekali seorang wanita, telah didiagnose mempunyai kanker, maka untuk mencheck payudara lainnya bisa digunakan MRI.

4. Tes Bedah (Biopsi)
Suatu test bisa saja menunjukkan kemungkinan adanya kanker, tapi hanya biopsy yang bisa memberikan diagnosis secara pasti. Sample yang diambil dari biopsy, danalisa oleh ahli patologi ( dokter spesialis yang ahli dalam menterjemahkan test-test laboratorium dan mengevaluasi sel, jaringan, organ untuk menentukan penyakit ).

5. Tes Darah

Test darah juga diperlukan untuk lebih mendalami kondisi kanker. Test-test itu antara lain :

a. Level Hemoglobin ( HB ) : untuk mengetahui jumlah oksigen yang ada di dalam sel darah merah

b. Level Hematocrit : untuk mengetahui prosentase dari darah merah didalam seluruh badan

c. Jumlah dari sel darah putih : untuk membantu melawan infeksi

d. Jumlah trombosit ( untuk membantu pembekuan darah )

e. Differential ( prosentase dari beberapa sel darah putih )

6. Jumlah alkalin phosphat

Jumlah enzyme yang tinggi bisa mengindikasikan penyebaran kanker ke liver, hati dan saluran empedu dan tulang.

7. SGOT & SGPT

Test ini untuk mengevaluasi fungsi lever. Angka yang tinggi dari salah satu test ini mengindikasikan adanya kerusakan pada liver, bisa jadi suatu sinyal adanya penyebaran ke liver

8. Tumor Maker Test

Untuk melihat apakah ada suatu jenis zat kimia yang ditemukan pada darah, kencing atau jaringan tubuh. Dengan adanya jumlah tumor marker yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari nilai normalnya, mengindikasikan adanya suatu proses tidak normal dalam tubuh. Bisa disebabkan karena kanker , bisa juga bukan. Pada kanker payudara tumor marker yang biasanya dilakukan adalah CA 15.3 dengan mengambil sample darah. Pada standard PRODIA tumor marker tidak boleh melebihi angka 30

I. TERAPI PADA STADIUM I dan STADIUM II

1. Pengobatan Dini

Pada kanker tahap I dan II, pembedahan saja dapat menyembuhkan sebagian besar. Pendekatan penyembuhan pada awal penyakit yang terbaik dengan  prosedur pembedahan. Mastektomi radikal melibatkan pengangkatan payudara dan kedua pectoralis mayor dan minor otot. Aksilaris bening pada sisi yang sama (ipsilateral) payudara lesi juga diangkat. Prosedur ini sering diikuti oleh eksternal terapi radiasi pancaran ke daerah yang terlibat. Terapi radiasi mengurangi kemungkinan kekambuhan tumor lokal oleh sekitar 30%.

2. Terapi Sistemik

Terapi sistemik diberikan untuk menunjang terapi dengan pembedahan dan radiasi sehingga terjadi peningkatan kesembuhan pada pasien. Berikut regimen pengobatan pada kanker payudara:

AC

Doxorubicin 60 mg/m2 IV, day 1

Cyclophosphamide 600 mg/m2 IV, day 1

CAF

Cyclophosphamide 600 mg/m2 IV, day 1

Doxorubicin 60 mg/m2 IV bolus, day 1

Fluorouracil 600 mg/m2 IV, day 1

CMF

Cyclophosphamide 600 mg/m2 IV, day 1

Methotrexate 40 mg/m2 IV, day 1

Fluorouracil 600 mg/m2 IV, days 1 and 8


3. Terapi Adjuvan

Terapi adjuvant diberikan untuk mendukung terapi dengan regimen diatas. Beberapa terapi adjuvant yang dapat diberikan berupa doxorubicin, epirubicin, cyclophosphamide, methotrexate, fluorouracil, paclitaxel, docetaxel, melphalan, prednisone, vinorelbine, and vincristine. Dengan adanya terapi adjuvant diharapkan dapat memberikan respon yang optimal bersama terapi diatas.

4. Terapi Adjuvan Endokrin

Terapi hormonal yang telah dipelajari dalam perawatan
Terapi hormonal yang telah dipelajari dalam pengobatan primer atau awal kanker payudara antara lain tamoxifen, ooforektomi, ovarium iradiasi, luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) agonis, anastrozole, letrozole, dan exemestane.

DAFTAR PUSTAKA

Dipiro, 2005, Pharmacotherapy Dipiro Pembahasan Breast Cancer, New York.

Oleh : Mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan bimbingan Dosen Saepudin, M.Si, Apt. untuk makalah lebih lengkap email saja ke m.ikhwan.rizki@gmail.com

Irwan Kurniawan  (02613146)

Atik Sulistyowati   (04613125)

Much Ilham          (05613061)

M. Ikhwan Rizki   (05613096)

Abdul Gofur          (05613122)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: